Perang Iran: Dari Bertahan Hidup Menjadi Pengatur Kawasan?

4 hours ago 7

loading...

Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews

Ridwan al-Makassary
Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE) UIII.

SERATUS tiga hari perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran telah mengubah banyak hal, termasuk cara pandang. Yang paling menarik dibicarakan bukanlah tentang berapa jumlah rudal yang telah ditembakkan, berapa kapal tanker yang sudah diblokade di Selat Hormuz, atau berapa kali ancaman pemusnahan yang telah diumbar dari podium-podium kekuasaan. Saat ini, yang paling penting dicermati justru adalah perubahan cara Iran memandang dirinya sendiri.

Di awal perang berkecamuk, banyak pengamat mempercayai bahwa Iran hanya berusaha untuk bertahan hidup dari gempuran militer terkuat di dunia. Dalam logika konflik asimetris, bertahan saja sudah dianggap sebagai kemenangan. Negara yang tidak runtuh, tidak menyerah, dan tidak kehilangan rezimnya setelah dekapitasi (tumbangnya pimpinan tertinggi) dianggap berhasil menang melawan kekuatan yang lebih besar. Karena menang secara militer terhadap AS adalah tidak mungkin.

Namun, memasuki hari ke-103, narasi itu tampaknya telah bergeser. Iran kini tidak lagi berbicara sekadar tentang strategi bertahan. Bahkan, Teheran mulai berbicara tentang masa depan kawasan. Perubahan ini terlihat jelas dalam negosiasi yang sedang berlangsung dengan pemerintahan Donald Trump. Ironisnya, presiden Trump yang pada 2018 menghancurkan perjanjian nuklir warisan Barack Obama kini tampak berupaya memperoleh kesepakatan yang substansinya tidak jauh berbeda dengan perjanjian yang dulu ia kecam habis-habisan tersebut.

Di sinilah paradoks sejarah bekerja. Perang yang dimaksudkan untuk memaksa Iran tunduk dan menyerah justru menghasilkan ruang tawar yang lebih luas bagi Teheran. Ultimatum lima belas poin yang dikirim Washington pada awal konflik perlahan kehilangan taringnya. Program rudal balistik yang sebelumnya menjadi syarat utama nyaris menghilang dari meja perundingan.

Hubungan Iran dengan kelompok-kelompok sekutunya atau poros perlawanan di Lebanon, Irak, dan Yaman tidak lagi menjadi fokus utama. Bahkan, pembahasan program nuklir harus didahului oleh isu pembukaan Selat Hormuz dan pelonggaran tekanan ekonomi.

Dengan kata lain, medan perang telah mengubah posisi tawar. Selama bertahun-tahun, Barat membayangkan bahwa sanksi ekonomi dan tekanan militer akan memaksa Iran menerima syarat-syarat yang ditentukan Washington. Namun, perang ini memperlihatkan kenyataan yang lebih rumit. Iran berhasil memanfaatkan geografi sebagai senjata politik. Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran. Ia adalah urat nadi ekonomi global.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |