loading...
Upacara HUT ke-81 RI di Alun-alun Indramayu, Senin (17/8/2026) berlangsung dengan suasana berbeda. Bupati Indramayu Lucky Hakim meniadakan tenda dan kursi VIP sehingga para pejabat serta tamu undangan berdiri bersama warga. Foto: Ist
INDRAMAYU - Upacara HUT ke-81 RI di Alun-alun Indramayu, Senin (17/8/2026) berlangsung dengan suasana berbeda. Bupati Indramayu Lucky Hakim meniadakan tenda peneduh dan kursi VIP sehingga pejabat, anggota dewan, pimpinan instansi, hingga tamu undangan berdiri bersama masyarakat selama upacara berlangsung.
Pada upacara itu, para elite daerah, anggota dewan, hingga pimpinan instansi harus menahan panas dan rasa pegal selama dua jam penuh tanpa sajian minuman dingin maupun penganan. Kebijakan tidak lazim ini langsung menyedot atensi publik karena mendobrak pakem protokoler upacara kenegaraan yang biasanya sarat dengan fasilitas mewah.
Baca juga: Upacara HUT RI ke-81 Selesai, Prabowo: Sesudah Ini Komandan Upacara dan Kesatuan Menghadap Saya
Lucky menegaskan komitmennya mengikis sekat feodalisme di lingkungan birokrasi pemerintahan daerah. Selanjutnya, publik figur tahun 1978 ini menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada para tamu kehormatan atas ketiadaan fasilitas peneduh.
"Saya mohon maaf kepada para anggota Dewan, DPRD, para pejabat, para petinggi , para elite, juga para tamu undangan yang terhormat nan mulia, saya tidak menyediakan kursi malah saya mengajak semuanya sama-sama berdiri dua jam di lapangan, tanpa hidangan, ninuman dingin nan buah-buahan, cemilan. Maaf saya tidak memberikan tenda peneduh malahan saya membuat semua tamu undangan yang mulia untuk sama-sama merasakan panas tanpa AC tanpa tenda peneduh, sama-sama kita semua bersama peserta upacara, rakyat yang menonton, para pedagang, para media peliput, para penjaga, semuanya merasakan nikmatnya sinar matahari nan sehat ini," ungkap Lucky, Senin (17/8/2026).
Selain itu, sang kepala daerah memandang bahwa aksi berjemur bersama masyarakat menyimpan pesan moral yang sangat mendalam bagi para pejabat publik. Dia ingin seluruh jajaran birokrasi merasakan langsung beratnya beban fisik rakyat kecil yang sehari-hari membanting tulang di bawah terik kemarau.
"Agar kita semua khususnya saya bisa merasakan panas dan terik seperti rakyat yang berjuang mencari nafkah di musim kemarau nan panas," ujarnya.






























