loading...
Pakar militer nilai serangan balasan Iran ke Yordania bermotif politis, bukan strategis. Foto/X/@defense_civil25
TEHERAN - Harlan Ullman, pakar militer ayng juga seorang pensiunan perwira senior Angkatan Laut AS, menyatakan bahwa keputusan Iran untuk menjadikan Yordania sebagai sasaran dalam serangan balasannya merupakan "pernyataan politik", terlepas dari ada atau tidaknya kerusakan yang diderita pasukan AS di sana.
"Mereka memberi sinyal kepada Yordania bahwa negara itu adalah sasaran," ujarnya, dilansir Al Jazeera. Dia menambahkan bahwa Iran memilih lokasi tersebut dibandingkan sasaran lain seperti pangkalan AS di UEA atau Qatar.
"Itu adalah sasaran yang signifikan secara politis," katanya, seraya menambahkan bahwa serangan Iran tersebut dilakukan "dengan niat yang disengaja—bukan semata-mata untuk menimbulkan kerusakan pada pihak Amerika, melainkan untuk menyampaikan pesan kepada rakyat Yordania: 'Apakah Anda yakin ingin mendukung Amerika?'"
Sementara itu, menyusul serangan AS terhadap Pulau Larak dan serangan balasan rudal Iran ke pangkalan-pangkalan AS di Yordania, Sina Azodi—direktur Program Studi Timur Tengah di Universitas George Washington—mengatakan kepada Al Jazeera bahwa eskalasi konflik lebih lanjut "benar-benar bergantung pada pihak Amerika".
Ia memperingatkan bahwa jika AS kembali melancarkan serangan, Iran "tidak akan memiliki pilihan lain" selain membalas, yang berpotensi memicu kembali "konfrontasi militer penuh".
Sebelumnya, Iran menyatakan telah meluncurkan rudal ke dua pangkalan AS di Yordania menyusul serangan AS terhadap Pulau Larak di Iran selatan pada hari Minggu sebelumnya.
Dalam sebuah pernyataan yang dilaporkan oleh kantor berita Iran pada hari Minggu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengatakan bahwa operasi gabungan rudal dan pesawat nirawak (drone)—yang mereka sebut sebagai "Hukuman bagi Agresor"—telah menghantam pangkalan King Hussein dan Al Azraq di Yordania.
Aksi saling serang ini merupakan lonjakan kekerasan pertama antara kedua belah pihak sejak akhir Juli.
IRGC menyatakan bahwa serangan tersebut "menghancurkan infrastruktur teknis dan perbaikan, serta lokasi penempatan pesawat tempur musuh," sehingga menimbulkan kerusakan yang signifikan.
Yordania melaporkan telah mencegat delapan rudal tak lama setelah IRGC mengumumkan serangan tersebut.
"Sistem pertahanan udara mencegat delapan rudal yang memasuki wilayah udara Kerajaan pada dini hari ini, Senin," demikian pernyataan militer Yordania. Tidak ada laporan mengenai korban luka di kedua pangkalan tersebut.
Dalam perkembangan lebih lanjut pada hari Senin, IRGC menyatakan telah menembak jatuh pesawat nirawak (drone) MQ-9 Reaper milik AS di atas Selat Hormuz.































