loading...
Negara-negara Arab diam-diam frustrasi karena tidak ditolong Amerika Serikat saat diserang Iran, padahal perang dipicu oleh serangan AS dan Israel. Foto/INSS
RIYADH - Sebuah laporan yang diterbitkan kantor berita AP mengungkap beberapa negara Arab di kawasan Teluk frustrasi karena tidak ditolong Amerika Serikat (AS) ketika wilayah mereka menjadi target serangan balas dendam Iran. Mereka juga mengeluh karena tidak diberi waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menghadapi gempuran drone dan rudal Teheran.
Negara-negara Arab tersebut merasa hanya terkena getah dari tindakan AS dan Israel yang menyerang Iran lebih dulu pada 28 Februari—yang kini berubah menjadi perang yang meluas di Timur Tengah dan sekitarnya.
Para pejabat dari dua negara Teluk mengatakan pemerintah mereka kecewa dengan cara AS menangani perang ini, khususnya serangan awal terhadap Iran Sabtu pekan lalu.
Baca Juga: Iran Ogah Minta Gencatan Senjata: Militer AS Rasakan Bencana Besar Jika Lakukan Invasi Darat!
Mereka mengatakan negara mereka tidak diberi pemberitahuan terlebih dahulu tentang serangan AS-Israel dan mengeluh bahwa AS telah mengabaikan peringatan mereka bahwa perang tersebut akan memiliki konsekuensi yang menghancurkan bagi seluruh kawasan.
Salah satu pejabat mengatakan bahwa negara-negara Teluk merasa frustrasi dan bahkan marah karena militer AS belum cukup membela mereka. Dia mengatakan ada keyakinan di kawasan itu bahwa operasi tersebut berfokus pada membela Israel dan pasukan Amerika, sementara negara-negara Teluk dibiarkan melindungi diri mereka sendiri dan mengatakan bahwa persediaan rudal pencegat negaranya "berkurang dengan cepat."
Seperti pejabat lainnya dalam laporan AP, para pejabat Teluk berbicara dengan syarat anonim karena mereka sedang membahas masalah diplomatik yang bersifat rahasia.
Pemerintah Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain tidak menanggapi permintaan komentar.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly mengatakan sebagai tanggapan: “Serangan rudal balistik balasan Iran telah berkurang 90% karena Operasi Epic Fury menghancurkan kemampuan mereka untuk menembakkan senjata ini atau memproduksi lebih banyak. Presiden [Donald] Trump berhubungan erat dengan semua mitra regional kami, dan serangan rezim teroris Iran terhadap negara-negara tetangganya membuktikan betapa pentingnya bagi Presiden Trump untuk menghilangkan ancaman ini bagi negara kita dan sekutu kita.”
Pentagon tidak menanggapi permintaan untuk berkomentar.
Reaksi resmi dari negara-negara Arab Teluk cenderung tenang, tetapi tokoh-tokoh publik yang memiliki hubungan dekat dengan pemerintah mereka secara terbuka mengkritik AS, menunjukkan bahwa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah menyeret Presiden Donald Trump ke dalam perang yang tidak perlu.

































