loading...
Praktik diplomasi sebenarnya bukan hal baru dalam Islam, bahkan cara diplomasi ini sudah menjadi bagian dari politik Islam sejak berabad-abad silam di awal perjuangan Islam oleh Nabi SAW. Foto ilustrasi/Sindonews
Diplomasi perang ala Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam ini menarik disimak dan penting diketahui umat Islam saat ini. Bagaimana sebenarnya strategi perang yang diterapkan Baginda Nabi SAW ini sehingga banyak peperangan yang dilakukan pasukan muslim yang selalu meraih kemenangan? Berikut ulasannya untuk Anda:
Praktik diplomasi sebenarnya bukan hal baru dalam Islam, bahkan cara diplomasi ini sudah menjadi bagian dari politik Islam sejak berabad-abad silam. Umumnya kalangan sejarawan menilai, terdapat dua karakteristik diplomasi yang dipraktikkan umat Islam.
"Ada dua tujuan utama diplomasi dalam kaca mata Islam. Pertama, diplomasi yang bertujuan untuk urusan dakwah, sedangkan yang lain berlatar belakang lebih religius,"papar Jere L Bacharach dalam buku 'Medieval Islamic Civilization: An Encyclopedia'.
Diplomasi yang dimaksud di atas, awalnya adalah untuk mengajak kaum di luar Islam untuk memeluk Islam, beriman kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Adapun karakteristik kedua lebih bersifat politis. Pada masa pemerintahan Islam, banyak ekspedisi dan perluasan wilayah.
Diplomasi ala Rasulullah SAW
Bagaimana sebenarnya bentuk diplomasi yang dilakukan Rasulullah SAW dalam banyak peperangan di awal perjuangan Islam ini? Mengutip pendapat Sekh Shafiyyurahman al-Mubarakfuri dalam kitab Sirah Nabawiyah karyanya, disebutkan bahwa bentuk diplomasi Rasulullah SAW, dalam pengertian dakwah dilakukan melalui korespondensi surat, terhadap beberapa raja dan amir. Di antaranya, kepada Negus Ethiopia, Binyamin (al-Muqawqis) di Mesir, Khosrau II Persia, Hercules Romawi, dan Uskup Dughathir.
Baca juga: Mengenal Jejak Diplomasi dan Perundingan dalam Sejarah Perang Islam
Tak hanya cukup dengan penulisan surat, kata al-Mubarakfuri, Rasul mengutus utusan khusus yang diposisikan sebagai diplomat untuk menjelaskan maksud dari surat tersebut.
Beberapa nama sahabat yang pernah ditugaskan secarah khusus untuk mengemban misi ini, antara lain, Amr bin Umayyah adh-Dhamri untuk Raja Habasyah, Hathib bin Abu Balta'ah untuk Raja Mesir, Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi untuk Raja Persia, dan Dihyah bin Khalifah al-Kalbi untuk Raja Romawi. Surat-surat diplomatik dari Rasul kepada para amir dan raja itu berisi ajakan untuk memeluk agama Islam dan ditulis pada akhir tahun 6 Hijriyah, setelah kembali dari Perjanjian Hudaibiyah.
Tradisi penulisan surat, sebagai media diplomasi tersebut, dipertahankan oleh keempat khalifah pengganti tugas kepemimpinan Rasul. Sejarah mencatat langkah diplomatik cerdas dari Umar bin Khatab melalui Land Reform dalam rangka membebaskan rakyat jajahan imperium Romawi dan Persia.
Dari Politik hingga Niaga
Pakar sejarah Islam dari Universitas Padjajaran, Ahmad Mansyur Suryanegara menjelaskan, Sang Khalifah membuat kebijakan perihal tanah milik petani Qibthi tidak berstatus sebagai "ghanimah" atau harta rampasan perang. Bahkan, Umar mengembalikan hak kepemilikan tanah itu kepada kaum Qibthi walaupun pemiliknya beragama Kristen. Ia berdiplomasi dengan menggunakan instrumen ekonomi berupa "land reform system" untuk tanah para petani Qibthi.
Tak hanya dalam bidang politik, diplomasi juga dilakukan dalam urusan perniagaan. Para khalifah telah mengirimkan utusan niaga ke berbagai wilayah, bahkan hingga ke Kekaisaran Tiongkok.
Para khalifah telah mengirimkan utusan niaga ke berbagai wilayah, bahkan hingga ke Kekaisaran Tiongkok. " Bisa kita baca dari buku berjudul Al-Ilaqat, yang ditulis oleh Badruddin, seorang Muslim Tiongkok, dalam bahasa Arab, yang menjelaskan bagaimana khalifah Islam menurut sejarah Tiongkok yang telah mengirimkan 32 utusan ke Cina," papar Ahmad Mansyur.
Apabila masa Khulafaur Rasyidin berlangsung selama 29 tahun, 11-41 H/ 632-661 M, tidak mungkin hubungan dagang dengan 32 utusan itu hanya terjadi pada masa khalifah ketiga semata. Dapat dipastikan hal itu berlangsung pada masa keempat khalifah. Dan tentunya, selama ke-32 kali ekspedisi itu tentu singgah ke Indonesia. Sebab, satu-satunya jalan yang mudah untuk sampai di Cina Selatan adalah melalui kepulauan nusantara Indonesia.
Bahkan, di masa Dinasti Umayyah, praktik diplomasi pun kian meluas. Perjanjian Damai antara Daulah Umayah dan Kekaisaran Bizantium mewarnai perkembangan diplomasi internasional dunia Islam.
Baca juga: Kenapa Dinamakan Bulan Zulkaidah? Ini Sejarah dan Asal-usul Lengkapnya
(wid)




































