Meja Keabadian, Potret Indonesia dalam Kacamata Penyair Perempuan Korea

10 hours ago 8

loading...

Potret Indonesia dalam kacamata penyair perempuan Korea. Foto: Istimewa

JAKARTA - Karya sastra lintas budaya kembali hadir melalui buku antologi puisi Meja Keabadian yang ditulis oleh penyair asal Korea Selatan, Sagong Kyung. Buku ini diterbitkan secara bersamaan dalam bahasa Indonesia dan Korea, memungkinkan pembaca dari kedua negara menikmati karya yang sama dalam konteks budaya masing-masing. Melalui metafora “meja”, Sagong menghadirkan potongan-potongan ingatan, perjumpaan budaya, serta dialog lintas bangsa yang ia alami selama puluhan tahun berada di Indonesia.

Antologi ini bukan sekadar kumpulan puisi, melainkan refleksi mendalam atas pengalaman personal Sagong Kyung. Ia mencoba “membentangkan Indonesia di atas satu meja”, menjadikannya ruang simbolik tempat sejarah, manusia, dan kenangan saling berkelindan. Meja Keabadian adalah salah satu puisi dalam buku ini, terinspirasi dari atmosfer sebuah ruang di restoran legendaris Tugu Lara Djonggrang di Menteng, Jakarta, yang sarat jejak waktu dan pertemuan budaya.

Lebih jauh, pendekatan Sagong dalam menulis tidak berangkat dari keinginan memotret Indonesia sebagai entitas negara semata. Ia justru menelusuri lapisan yang lebih hidup, budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, tradisi yang diwariskan, serta sejarah yang membentuk identitas. Perspektif inilah yang membuat puisi-puisinya terasa intim, seolah mengajak pembaca masuk ke dalam pengalaman keseharian yang sering luput dari perhatian.

Buku ini juga memiliki makna khusus karena dipersembahkan Sagong Kyung untuk memperingati 500 tahun Jakarta. Melalui puisi-puisinya, ia merekam denyut ibu kota dari sudut pandang yang unik, seorang penyair asing yang mengamati, merasakan, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa sastra yang kontemplatif. Dalam pengantar yang disampaikan kepada publik, Sagong menyebut karyanya lahir dari “waktu, ingatan, dan kepekaan budaya” yang ia temukan di Indonesia.

Sagong Kyung sendiri bukan hanya dikenal sebagai penyair, tetapi juga figur aktif dalam ranah budaya. Ia merupakan direktur Lembaga Studi Budaya Korea-Indonesia sekaligus kurator seni budaya, serta peneliti batik yang memiliki perhatian besar terhadap warisan Nusantara. Selain Meja Keabadian, ia juga menulis sejumlah karya lain seperti Catatan Museum Jakarta dan Taman Tua di Jawa Barat. Pengalamannya semakin lengkap dengan kiprah sebagai pengajar di sekolah internasional Korea di Jakarta.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |