Ketika Suara Guru Bertemu Data PISA

5 hours ago 1

loading...

Putri Sasalia S, Mahasiswa Doktoral Teknologi Pendidikan UNESA. Foto/Dok. SindoNews

Putri Sasalia S, M.Pd
Mahasiswa Doktoral Teknologi Pendidikan UNESA

APAyang sebenarnya dibutuhkan sekolah dari sebuah kurikulum?” Pertanyaan ini tidak cukup dijawab dari dokumen kebijakan. Jawabannya juga perlu didengar dari guru yang setiap hari berhadapan langsung dengan peserta didik di ruang kelas.

Hasil wawancara yang telah saya lakukan menunjukkan data pendapat 15 guru dari berbagai sekolah dan daerah yang ada di Indonesia memberikan gambaran menarik. Ketika ditanya kurikulum yang paling memudahkan dalam merancang pembelajaran, 9 guru atau 60% memilih Kurikulum Merdeka. Dalam pelaksanaan pembelajaran di kelas, 8 guru atau 53,3% memilih Kurikulum Merdeka.

Kecenderungan tersebut semakin terlihat pada aspek fleksibilitas. Sebanyak 10 guru atau 66,7% menilai Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan terbesar dalam memilih metode dan strategi pembelajaran. Bahkan, 11 guru atau 73,3%menyatakan Kurikulum Merdeka paling memudahkan guru menyesuaikan pembelajaran dengan perbedaan kemampuan peserta didik.

Dukungan terhadap teknologi juga sangat kuat. Sebanyak 12 guru atau 80% memilih Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang paling mendukung penggunaan teknologi dalam pembelajaran. Angka yang sama, 80%, juga memilihnya sebagai kurikulum yang paling mendukung pengembangan kreativitas peserta didik.

Lebih jauh, 10 dari 15 guru atau 66,7% menilai Kurikulum Merdeka paling sesuai dengan kebutuhan peserta didik saat ini. Sementara itu, 13 guru atau 86,7% menilai Kurikulum Merdeka paling sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah seorang guru menyampaikan secara langsung, “Guru memiliki kebebasan untuk mengembangkan silabus, materi pelajaran lebih relevan dengan kebutuhan nyata, guru dituntun lebih kreatif dan inovatif dalam merancang metode pembelajaran sesuai dengan lingkungan tempat peserta didik tinggal.” Guru lainnya menyatakan bahwa melalui Kurikulum Merdeka, dirinya lebih leluasa mengembangkan kreativitas dalam menyusun media pembelajaran dan menyesuaikannya dengan kemampuan peserta didik yang berbeda-beda.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |