loading...
Imamul Masyhudi. Foto/Dok Pribadi
Imamul Masyhudi
Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Multimedia Nusantara
BELAKANGAN ini saya menemukan beberapa utas di media sosial yang membahas bagaimana sejumlah perusahaan besar mulai menghitung kembali biaya penggunaan Artificial Intelligance (AI) dalam pekerjaan mereka. Beberapa perusahaan yang disebut menghabiskan token dalam jumlah sangat besar setiap bulannya. Hal ini kemudian menarik jika dibandingkan dengan penggunaan tenaga manusia.
Selama ini kita sering mendapatkan kesan bahwa AI akan membuat pekerjaan menjadi jauh lebih efisien dan murah. Namun dalam praktiknya, ternyata persoalannya tidak sesederhana itu. Ada biaya komputasi, infrastruktur, energi, penyimpanan, hingga kebutuhan data center yang semuanya harus diperhitungkan.
Washington Post baru saja menganalisis lima perusahaan besar, yaitu Amazon, Google, Microsoft, Meta, dan Oracle. Analisis tersebut menunjukkan bahwa besarnya investasi mereka pada AI mulai memberikan tekanan besar terhadap arus kas bebas (free cash flow) kelima perusahaan tersebut. Gabungan arus kas bebas kelima perusahaan tersebut diproyeksikan hampir habis pada 2026 dan menjadi negatif sekitar USD125 miliar pada tahun berikutnya, berdasarkan data S&P Global Market Intelligence.
Saya tentu tidak sedang mengatakan bahwa tenaga manusia selalu lebih murah daripada AI. Tetapi dari sini setidaknya muncul pertanyaan yang menurut saya penting: apakah penggunaan AI memang selalu lebih efisien daripada manusia? Sejumlah perusahaan bahkan mulai menghitung ulang penggunaan AI dan, dalam beberapa kasus, kembali memperbesar peran manusia.
Baca Juga: Dilema AI dan Regulasi Berbasis Risiko
Perhitungan ulang biaya oleh perusahaan-perusahaan tersebut ternyata sejalan dengan apa yang dirasakan oleh para praktisi di lapangan. Bukan hanya persoalan finansial, efektivitas AI juga mulai dipertanyakan dari segi kualitas hasil kerjanya, hal yang terlihat sangat jelas di bidang yang saya geluti, yaitu desain grafis. Di ranah ini, AI mampu membuat gambar ilustrasi dan objek (hampir) apa pun dengan berbagai macam gaya visual hanya berdasarkan perintah teks. Sesuatu yang sebelumnya membutuhkan kemampuan teknis dan waktu yang cukup panjang, kini dihasilkan dalam hitungan detik.
Namun, sesuatu yang awalnya menakjubkan akan mengalami perubahan ketika kita melihatnya terus-menerus. “Keajaiban” itu perlahan menjadi kebisingan. Kita bisa melihatnya ketika scrolling media sosial. Gambar-gambar yang dibuat dengan AI muncul begitu banyak dengan karakter visual yang semakin mudah dikenali. Bahkan dalam berbagai materi publik seperti poster, banner, sampai infografis, penggunaan AI mulai terasa di mana-mana.
































