Abu Vulkanik dan Ancaman Kesehatan yang Tidak Boleh Diabaikan

1 hour ago 1

loading...

Ari Fahrial Syam - Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Ari Fahrial Syam
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Pagi ini Jabodetabek menjadi daerah berdampak akibat letusan Gunung Anak Krakatau. Sebagian besar warga yang berdampak sudah menyampaikan mata perih, kulit gatal dan sesak nafas.

Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang harus menjadi perhatian masyarakat. Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel-partikel yang beterbangan dapat langsung mengenai mata, kulit, dan terhirup ke dalam saluran pernapasan.

Paparan pada mata dapat menyebabkan mata perih, merah, dan berair. Pada kulit dapat timbul rasa gatal dan iritasi. Sementara itu, ketika partikel terhirup, masyarakat dapat mengalami batuk, rasa tidak nyaman di tenggorokan, hingga sesak napas.

Hal yang perlu dipahami adalah dampak terhadap saluran pernapasan tidak selalu berhenti pada keluhan yang muncul saat paparan terjadi.

Gangguan Pernapasan Dapat Muncul Belakangan

Partikel yang terhirup dapat bertahan di dalam sistem pernapasan dan menimbulkan proses iritasi serta peradangan. Karena itu, masyarakat yang merasa sehat beberapa hari setelah terpapar abu vulkanik tidak boleh langsung menganggap bahwa risiko sudah berlalu.

Gangguan saluran pernapasan bawah dapat muncul kemudian, termasuk dalam satu hingga dua minggu setelah paparan.

Di satu sisi sampai saat ini erupsi masih terjadi.Apabila setelah terpapar abu seseorang mengalami batuk yang semakin berat, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi fisiknya memburuk, pemeriksaan medis harus segera dilakukan. Karena bisa saja sudah terjadi infeksi paru.

Bagaimana dengan Silika?

Persoalan lain yang perlu diperhatikan adalah kandungan material dalam abu vulkanik.
Salah satu pertanyaan penting adalah apakah terdapat silika dalam bentuk dan konsentrasi yang berpotensi membahayakan kesehatan paru. Paparan silika respirabel yang signifikan dan berlangsung lama dapat menyebabkan silikosis, yaitu penyakit paru akibat penumpukan partikel silika yang menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada paru.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |