loading...
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Foto/Tangkapan layar
JAKARTA - Pengamat Hukum dan Politik Pieter C Zulkifli mengatakan bahwa di tengah menguatnya rumor pergantian Kapolri, perhatian publik semestinya tidak berhenti pada siapa yang akan datang atau siapa yang akan pergi. Dia menambahkan, jauh lebih penting adalah memastikan setiap keputusan strategis negara tetap berpijak pada meritokrasi, yakni penghargaan terhadap rekam jejak, integritas, dan prestasi.
Pieter mengulas mengapa keberanian melakukan reformasi, konsistensi menegakkan hukum, serta capaian Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo selama memimpin Polri yang patut menjadi pertimbangan objektif di tengah dinamika politik dan keamanan nasional. “Dalam negara yang menjunjung meritokrasi, seorang pemimpin tidak semestinya dinilai dari riuhnya rumor, melainkan dari rekam jejak, keberanian, dan pengabdiannya kepada bangsa," kata Pieter Zulkifli dalam keterangannya dikutip, Rabu (12/8/2026).
Pieter mengamini jika rumor mengenai pergantian Kapolri kembali mengemuka. Di ruang publik, dia melihat isu tersebut berkembang cepat, bahkan kerap mendahului fakta. Dia menjelaskan, dalam negara demokrasi, pergantian pejabat publik merupakan hal yang wajar karena menjadi hak prerogatif Presiden.
Baca juga: Respons Isu Pergantian Kapolri, Pemuda PUI Tekankan Persatuan dan Stabilitas
Namun, menurut dia, hak tersebut tidak menghapus pentingnya satu prinsip dasar, yakni setiap keputusan strategis negara seharusnya berpijak pada rekam jejak, integritas, dan kepentingan nasional, bukan semata-mata pada riuhnya spekulasi politik. "Dalam konteks itulah publik layak menilai secara jernih. Apakah rekam jejak kepemimpinan Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo selama lebih dari lima tahun memang menunjukkan kegagalan, atau justru menghadirkan capaian yang layak menjadi pertimbangan negara?” ujarnya.
Menurut dia, pertanyaan tersebut penting dijawab secara objektif, sebab meritokrasi hanya akan hidup apabila prestasi ditempatkan di atas persepsi. Dia pun mengutip Filsuf Yunani Aristoteles yang pernah mengatakan, 'The whole is greater than the sum of its parts'. Sebuah institusi tidak dapat dihakimi hanya dari kesalahan sebagian anggotanya.
































