loading...
Diprediksi suku bunga global dan negara-negara maju akan tertahan lebih tinggi hingga 0,5% (50 basis poin) dibandingkan proyeksi sebelum perang pecah. Foto/Dok
JAKARTA - Perang yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) bersama Israel terhadap Iran di Timur Tengah mungkin terlihat mulai mereda dengan adanya gencatan senjata. Namun dampak nyata terhadap isi dompet masyarakat dunia baru saja dimulai seiring kembalinya tren suku bunga tinggi .
Laporan terbaru dari Bloomberg Economics (BE) merilis proyeksi mengejutkan, bahwa jalur suku bunga bank sentral global dipastikan akan terkunci di level yang lebih tinggi hingga tahun 2028. Artinya era pinjaman murah telah berakhir, dan masyarakat harus bersiap menghadapi biaya hidup serta cicilan kredit yang jauh lebih mencekik dalam beberapa tahun ke depan.
Efek Domino Selat Hormuz: Cicilan Ikut Naik?
Meskipun harga minyak mentah perlahan menyusut setelah kesepakatan damai AS-Iran, badai inflasi yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz beberapa waktu lalu telah telanjur merembes ke seluruh sektor ekonomi.
Baca Juga: The Fed Punya Bos Baru! Sinyal Kenaikan Suku Bunga Bikin Pasar Global Ketar-ketir
Bank-bank sentral dunia yang sempat trauma dengan ledakan inflasi pasca-pandemi kini bersikap sangat agresif (hawkish). Diprediksi suku bunga global dan negara-negara maju akan tertahan lebih tinggi hingga 0,5% (50 basis poin) dibandingkan proyeksi sebelum perang pecah.
"Bank sentral umumnya berbicara sangat keras soal inflasi. Dengan lonjakan harga yang sempat terjadi, keikhlasan mereka untuk melunasi retorika agresif tersebut sangat terbatas," ujar Jamie Rush, Direktur Ekonomi Global di Bloomberg Economics.
Bagi konsumen dan pelaku usaha, ini adalah kabar buruk. Harapan untuk melihat penurunan bunga KPR (Kredit Pemilikan Rumah), kredit kendaraan, atau modal usaha dalam waktu dekat dipastikan harus tertunda.
Peta Suku Bunga 2026-2027: Apa yang Terjadi pada Bank Sentral Utama?
Guncangan kebijakan ini mengubah total strategi 23 bank sentral di negara-negara penguasa 90% ekonomi global.
1. AS (Federal Reserve): Rezim Baru Kevin Warsh
Di bawah kepemimpinan Ketua Fed yang baru, Kevin Warsh, Bank Sentral AS memilih bersikap galak terhadap inflasi.
Suku Bunga Saat Ini: 3,75%
Proyeksi Akhir 2026: Bertahan di 3,75% (Pembatalan rencana pemangkasan suku bunga).
Prediksi di 2027: 3,5%
Warsh juga memotong panduan kebijakan (forward guidance), membuat investor makin menebak-nebak arah ekonomi menjelang pemilu sela (midterm elections) AS November mendatang.
2. Eropa (ECB) & Inggris (Bank of England)
ECB (Eropa) diperkirakan tetap akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September nanti menjadi 2,5%, sebelum perlahan melonggar di tahun depan.
BOE (Inggris): Memilih posisi wait-and-see. Turunnya harga energi menyelamatkan Inggris dari kewajiban menaikkan bunga, namun suku bunga acuan diprediksi tetap mandek di 3,75% sepanjang 2026.
3. Jepang (BOJ): Rekor Melemahnya Yen
Yen Jepang telah jatuh ke level terlemahnya terhadap dolar AS sejak tahun 1986. Tingginya biaya impor memaksa Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, untuk mengerek suku bunga ke angka 1,25% pada Desember 2026 demi menyelamatkan mata uang mereka.
4. People's Bank of China
Suku bunga reverse repo 7-hari saat ini: 1,4%
Perkiraan untuk akhir 2026: 1,3%
Perkiraan 2027: 1,2%
China Pilih Ambil Jalan Pintas

































