loading...
Palantir Uji Coba AI Tempur di Perang Ukraina. Foto/ Daily
KIEV - Palantir sedang mengembangkan sistem AI perang yang membantu Ukraina menganalisis data medan perang, mengubah cara peperangan modern dilakukan.
Grup teknologi pertahanan dan kecerdasan buatan Palantir sedang memperluas uji coba platform yang digambarkan sebagai "sistem operasi perang" untuk mendukung Ukraina dalam konfliknya dengan Rusia.
Sistem ini menggunakan AI untuk mensintesis data medan perang, menganalisis target, dan mendukung pengambilan keputusan secara real-time.
Menurut Majalah Military Watch, Palantir telah menjadi salah satu perusahaan teknologi Barat yang paling menonjol dalam perang Ukraina berkat platform pemrosesan data taktis dan analisis intelijen berbasis AI-nya.
Perusahaan tersebut dilaporkan sedang menguji teknologi yang mampu menghubungkan data dari satelit, UAV, radar, dan sumber pengintaian berbasis darat ke dalam jaringan operasi terpadu.
Dalam kunjungan baru-baru ini ke Kyiv, CEO Palantir Alex Karp bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan para pejabat pertahanan untuk membahas perluasan penerapan AI dalam peperangan modern. Ukraina saat ini berkolaborasi dengan Palantir dalam proyek "Brave1 Dataroom", yang bertujuan untuk memanfaatkan data medan perang untuk mengembangkan model AI guna mendeteksi dan mencegat target udara.
Menteri Transformasi Digital Ukraina, Mykhailo Fedorov, mengatakan bahwa lebih dari 100 perusahaan terlibat dalam pelatihan sekitar 80 model AI untuk peperangan elektronik, identifikasi target, dan koordinasi UAV. Sistem yang dipasok oleh Palantir telah diintegrasikan ke dalam analisis serangan udara Kyiv dan operasi perencanaan serangan jarak jauh.
Para ahlimiliterpercaya bahwa platform Palantir memiliki banyak kesamaan dengan program Project Maven milik Pentagon – sebuah sistem AI terkenal yang digunakan untuk memproses sejumlah besar data dari drone dan sensor medan perang. Maven saat ini dianggap sebagai salah satu program AI militer terbesar di AS dan sedang diperluas menjadi platform peperangan terpadu untuk militer AS dan NATO.


































