Mudik 2026 dan Isu Strategis Terkait Kependudukan

8 hours ago 5

loading...

Budi Setiyono, Sesmendukbangga/BKKBN. Foto: Istimewa

Budi Setiyono
Sesmendukbangga/BKKBN

MUSIM mudik hampir selesai. Pelajaran apa yang bisa kita petik dari peristiwa mudik tahun 2026 ini? Pada satu sisi, mudik Lebaran selalu dirayakan sebagai tradisi tahunan yang sarat makna sosial dan kultural. Ia adalah momen pulang, berkumpul, dan memperkuat ikatan keluarga. Namun pada sisi lain, di balik romantisme tersebut, mudik 2026 menghadirkan sebuah realitas yang tidak bisa lagi diabaikan: Indonesia masih menghadapi tekanan serius dalam sistem mobilitas nasionalnya.

Tahun ini, menurut catatan survei Kemenhub, jumlah pemudik diperkirakan mencapai sekitar 144 juta orang, atau lebih dari separuh populasi Indonesia. Angka tersebut pada realitanya bahkan berpotensi meningkat hingga 155 juta orang, mengikuti tren tahun-tahun sebelumnya yang kerap melampaui prediksi. Skala pergerakan manusia sebesar ini bukan hanya fenomena budaya—ini adalah peristiwa demografis besar yang memiliki implikasi luas terhadap infrastruktur, ekonomi, dan tata ruang nasional.

Masalah pertama yang paling kasatmata adalah konsentrasi arus mudik yang sangat tinggi di Pulau Jawa. Pergerakan didominasi oleh masyarakat dari kawasan urban seperti Jabodetabek menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jalur-jalur utama, baik jalan tol maupun jalur arteri, menanggung beban yang jauh melampaui kapasitas idealnya. Kondisi ini menciptakan kemacetan panjang yang berulang setiap tahun, seolah menjadi sesuatu yang terlihat “normal” saja.

Namun, kemacetan bukanlah inti persoalan. Ia hanyalah gejala dari masalah yang lebih dalam, yaitu struktur kependudukan dan mobilitas penduduk yang tidak seimbang. Dominasi kendaraan pribadi menjadi indikator bahwa transportasi publik belum menjadi tulang punggung moda mobilitas nasional, bahkan dalam situasi ekstrem seperti mudik.

Ketika sebagian besar masyarakat memilih atau terpaksa menggunakan mobil dan sepeda motor, beban terhadap jaringan jalan meningkat secara eksponensial. Ini tidak hanya menciptakan kemacetan, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan, memperbesar konsumsi energi, penyebaran penyakit, dan menambah biaya sosial secara keseluruhan.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |