Masa Depan Iran di bawah Kepemimpinan Garda Revolusi (IRGC)

10 hours ago 9

loading...

Ridwan al-Makassary, Dosen di Fakultas Ilmu Sosial UIII/Direktur Center of Muslim Politics and World Society UIII. Foto/Dok. SindoNews

Ridwan al-Makassary
Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)
Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE)

DALAM politik, sejatinya, tidak pernah ada kekosongan kekuasaaan. Jika seorang pemimpin meninggal dunia, maka dia akan digantikan oleh seorang pemimpin yang lain. Dalam situasi perang di Iran, kekosongan kekuasaan dengan cepat diisi oleh pemimpin baru.

Kematian Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, disusul wafatnyanya Ali Larijani pada 17 Maret 2026 dalam serangan Israel beberapa pekan kemudian merupakan kehilangan dua figur sentral dalam tubuh pemerintahan Iran. Tampaknya ini adalah akhir dari era yang bisa menjaga keseimbangan antara kapan berperang dan kapan berdamai. Mungkinkah ini awal dari perang total yang menghancurkan?

Hingga kini, dunia sibuk menghitung rudal yang diluncurkan dan kilang minyak yang meledak. Namun, di balik gemuruh perang, ada pergeseran struktur yang terjadi di Republik Islam Iran, yang selama empat dekade merawat keseimbangan tersebut. Generasi muda Iran, sejatinya, memimpikan demokrasi dan reformasi, namun, sejauh ini yang lahir adalah sebuah negara militer yang berselimut jubah agama.

Sistem Velayat-e-Faqih (kekuasaan tertinggi ulama) sekian lama selalu hidup dalam kepalsuan. Sejak awal, rezim ini tegak berdiri di atas dua pilar yang kontradiktif, yaitu legitimasi agama dari para ulama dan kekuatan koersif dari Garda Revolusi (IRGC). Sang Rahbar Khamenei memahami seni menjaga keseimbangan, yang disebut sebagai narmesh-e qahremananeh (kelenturan heroik), yang memungkinkan rezim menghela napas saat tekanan terlalu berat, termasuk dalam negosiasi nuklir.

Harapan bertumpu pada Larijani, yang juga telah meninggal dunia. Kini, keseimbangan itu telah hancur. Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru adalah bukti paling gamblang. Putra kedua almarhum sang rahbar ini dipandang bukanlah seorang ulama besar, di mana gelar Hojjatoleslam-nya tidak sebanding dengan otoritas Ayatullah yang disandang ayahnya.

Dia bukan pemimpin spiritual, namun, dia adalah produk kompromi antara faksi garis keras dan IRGC. Satu fakta menggelitik adalah sejak diangkat sebagai pimpinan tertinggi, Mojtaba tidak pernah muncul di depan publik. Pidato pertamanya sebagai pemimpin tertinggi dibacakan orang lain di televisi. Entah karena cedera dan dirawat di Rusia, atau karena ia memang tak lebih dari sekadar front—sebuah kedok agar dunia percaya bahwa Republik Islam masih dijalankan ulama, padahal kendali terpusat di tangan para jenderal Garda Revolusi.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |