Keruntuhan Dolar AS Bukan Lagi Dongeng, BRICS Ubah dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata

7 hours ago 6

loading...

Sentimen anti-dolar AS atau dedolarisasi yang digelorakan oleh aliansi negara-negara berkembang BRICS kini bukan lagi sekadar gertakan sambal atau cerita fiksi. Foto/Dok

JAKARTA - Sentimen anti- dolar AS atau dedolarisasi yang digelorakan oleh aliansi negara-negara berkembang BRICS kini bukan lagi sekadar gertakan sambal atau cerita fiksi. Ekonom dunia yang pertama kali menciptakan istilah BRIC pada 25 tahun lalu, Jim O'Neill secara mengejutkan mengubah pandangannya dan mengakui bahwa keruntuhan dominasi mata uang Negeri Paman Sam kini sudah di depan mata.

Dalam sebuah wawancara eksklusif bersama Reuters, mantan Kepala Ekonom Goldman Sachs tersebut blak-blakan menyebut bahwa lompatan masif teknologi sistem pembayaran digital dalam beberapa waktu terakhir telah mengubah total lanskap finansial dunia.

Dari Khayalan Menjadi Ancaman Nyata bagi Amerika Serikat

O'Neill mengungkapkan bahwa hingga pertengahan tahun lalu, ia adalah salah satu orang yang paling skeptis terhadap ambisi aliansi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) untuk menantang mata uang AS.

"Sekitar 18 bulan lalu, jika Anda bertanya kepada saya soal ini, saya akan bilang itu hanya khayalan (fantasy). Ide bahwa negara-negara BRICS bisa menciptakan semacam instrumen finansial alternatif untuk menggantikan dolar terdengar mustahil," aku O'Neill jujur.

Baca Juga: Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan

Skeptisisme itu wajar, mengingat Dolar AS telah mencengkeram sistem moneter global selama lebih dari setengah abad sejak runtuhnya sistem Bretton Woods pada tahun 1970-an. Namun saat ini, peta kekuatan dunia sudah bergeser. Munculnya berbagai teknologi finansial baru membuat O'Neill ragu dolar bisa bertahan selamanya.

"Siapa yang benar-benar tahu seperti apa sistem moneter kita di masa depan nanti?" cetusnya.

Senjata Rahasia BRICS: Menghubungkan QR Code Antar-Negara

Selama ini kritik terbesar terhadap BRICS adalah ketidakmampuan mereka menyatukan visi politik karena kepentingan ekonomi yang berbeda-beda. Namun aliansi negara-negara berkembang ini menemukan jalan pintas cerdas melalui jalur teknologi sistem pembayaran nontunai.

Baca Juga: Dolar AS Mulai Dikepung, Mampukah BRICS Meruntuhkan Dominasi Greenback?

Daripada repot-repot membuat satu mata uang tunggal baru yang rumit, negara-negara BRICS+ kini fokus mengembangkan sistem BRICS Pay serta mengintegrasikan jaringan pembayaran domestik sukses milik mereka, seperti UPI (Sistem pembayaran instan milik India), CIPS (Sistem kliring lintas batas milik China), serta PIX (Sistem transfer instan populer milik Brasil).

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |