Ini Peta Jalan NU 2026-2050 dan Arah Strategis Program 2026-2031

4 hours ago 6

loading...

Konferensi pers mengenai hasil Muktamar ke-35 NU di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Salah satu keputusan penting yang dihasilkan adalah penetapan mandat untuk menyusun peta jalan (roadmap) NU 2026–2050. Foto/Dok. SindoNews

JAKARTA - Salah satu keputusan penting yang dihasilkan dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) adalah penetapan mandat untuk menyusun peta jalan (roadmap) NU 2026–2050. Dokumen ini dirancang sebagai panduan visi besar kepemimpinan organisasi dalam jangka panjang, mengingat NU kini telah memasuki abad kedua perjuangannya dengan tantangan yang jauh berbeda dari era sebelumnya.

"Karena ini masuk abad kedua dengan tantangan yang berbeda. Ada soal Gen Z, ada soal abad digital, ada soal perkembangan geopolitik, dan lain-lain. Karena itu, organisasi NU juga perlu untuk bertransformasi dan melakukan konsolidasi," kata Ketua Komisi Program, Alissa Wahid dalam Konferensi Pers Hasil-Hasil Muktamar di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Baca juga: Membaca Muktamar NU dari Perspektif Neuropolitik: Antara Trust dan Obedience

Alissa menegaskan, peta jalan tersebut bukan sekadar dokumen seremonial. Ia menjadi acuan pokok bagi mandataris muktamar dan kepengurusan PBNU masa bakti 2026–2031 serta berkelanjutan.

Seluruh program dan kebijakan yang dijalankan rais aam dan ketua umum terpilih nantinya harus berpedoman pada haluan ini. Alissa juga mengingatkan bahwa pencapaian terhadap peta jalan tersebut akan menjadi bahan pertanggungjawaban pengurus dalam setiap forum evaluasi, baik melalui musyawarah nasional (munas), konferensi besar (konbes), maupun Muktamar ke-36 NU pada 2031 mendatang.

Alissa merinci, peta jalan NU 2026–2050 difokuskan pada dua ranah besar yakni penguatan internal organisasi dan penguatan khidmah (pengabdian) kepada masyarakat. Dari sisi internal, transformasi dan konsolidasi jam'iyyah menjadi prioritas utama agar NU mampu merespons dinamika generasi muda, lompatan teknologi digital, serta perubahan lanskap geopolitik global.

Sementara dari sisi khidmah, terdapat empat pilar utama yang menjadi perhatian. Keempatnya meliputi penguatan pesantren dan paham Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja), peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi warga NU, pengembangan keunggulan sumber daya manusia (SDM) warga NU, serta pelestarian lingkungan yang berkelanjutan.

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |