loading...
Harryanto Aryodiguno, Ass. Prof. International Relations, President University. Foto/Dok SindoNews
Harryanto Aryodiguno
Ass. Prof. International Relations, President University
KETIKA film Dear You: A Love Letter to Chaoshan dituduh sebagai instrumen propaganda Beijing untuk memengaruhi diaspora Tionghoa di Asia Tenggara, perdebatan yang muncul sebenarnya bukan tentang film itu sendiri. Perdebatan tersebut menyentuh persoalan yang jauh lebih mendasar: bagaimana identitas diaspora terbentuk, dan apa yang sebenarnya menentukan kesetiaan politik seseorang.
Film berbahasa Teochew tersebut menceritakan kisah seorang keturunan perantau yang menelusuri jejak keluarganya melalui surat-surat, kenangan, dan kiriman uang yang selama puluhan tahun menghubungkan Asia Tenggara dengan kampung halaman di Chaoshan, Guangdong.
Tidak ada pidato politik. Tidak ada slogan ideologis. Tidak ada seruan untuk mendukung Republik Rakyat Tiongkok. Yang ditampilkan justru pengalaman manusia yang sangat universal: kerinduan terhadap keluarga, pengorbanan para migran, dan hubungan emosional antara generasi yang terpisah oleh lautan.
Namun justru karena itulah film ini dianggap berbahaya oleh sebagian pengamat. Mereka melihat film tersebut sebagai bagian dari strategi soft power Tiongkok untuk membangun kembali hubungan emosional antara diaspora dan tanah leluhur. Dalam pandangan ini, nostalgia budaya dianggap sebagai pintu masuk bagi pengaruh politik. Semakin kuat seseorang merasa dekat dengan leluhurnya, semakin besar kemungkinan ia akan mengembangkan loyalitas politik terhadap negara asal leluhurnya.
Masalahnya, asumsi tersebut terlalu menyederhanakan cara identitas manusia bekerja. Ia mengandaikan bahwa identitas dapat dibentuk secara sepihak oleh budaya. Seolah-olah seseorang yang menonton film tentang leluhurnya akan otomatis mengubah orientasi politiknya. Seolah-olah memori sejarah lebih kuat daripada pengalaman hidup sehari-hari sebagai warga negara.
Padahal pengalaman diaspora Tionghoa di Asia Tenggara menunjukkan hal yang sebaliknya. Identitas tidak dibentuk terutama oleh film, bahasa, atau nostalgia leluhur. Identitas dibentuk oleh pengalaman sosial dan politik yang dialami seseorang sepanjang hidupnya.
Indonesia memberikan contoh yang menarik.
Selama puluhan tahun, negara menjalankan kebijakan asimilasi yang ketat terhadap warga keturunan Tionghoa. Nama Tionghoa diganti dengan nama Indonesia. Bahasa Mandarin dibatasi. Sekolah-sekolah Tionghoa ditutup. Organisasi budaya dibubarkan. Secara teori, kebijakan tersebut seharusnya menghapus identitas Tionghoa dari generasi berikutnya.


































