loading...
China jadi sorotan peneliti terkait praktik penggunaan troll army untuk memengaruhi opini publik. Foto/Universidad de Navarra
JAKARTA - Praktik penggunaan “troll army” atau pasukan siber untuk memengaruhi opini publik dinilai semakin menjadi instrumen penting dalam propaganda politik di era digital.
Hal tersebut disampaikan oleh Rajib Nandy, Associate Professor Ilmu Komunikasi dan Jurnalisme dari University of Chittagong, yang menyoroti bagaimana rezim otoriter menggabungkan narasi nasionalisme dengan strategi penyebaran disinformasi dan polarisasi di ruang digital.
Baca Juga: Robohkan Firewall Besar China, Aktivis Wuhan Cari Suaka ke Belanda
Menurut Nandy, media sosial kini menjadi arena utama dalam membentuk opini publik, di mana diskursus rasional sering kali tergeser oleh narasi yang dibentuk melalui pengulangan, emosi, dan manipulasi.
“Troll army tidak lagi hanya berfungsi untuk membungkam kritik, tetapi juga menciptakan suasana permusuhan kolektif yang terorganisasi,” ucapnya, dikutip dari Daily Times of Bangladesh, Kamis (2/4/2026).
Melalui aktivitas terkoordinasi di platform digital, kelompok ini disebut mampu mengarahkan percakapan publik serta melemahkan suara yang berseberangan.
Dia menilai fenomena tersebut berkembang secara global, seiring meningkatnya penggunaan media sosial sebagai alat komunikasi politik.
Baca Juga: Kebocoran 100.000 Dokumen Ungkap Ekspor Sistem Sensor Internet China
China sebagai Contoh Utama
Dalam analisanya, Nandy menyebut China sebagai salah satu contoh paling kompleks dalam pengelolaan ruang digital.
Dia merujuk pada keberadaan jaringan komentator pro-pemerintah yang dikenal sebagai “50 Cent Party” atau Wumao Dang, yang disebut berjumlah sangat besar dan berperan dalam memperkuat narasi negara.
“Aktivitas kelompok ini tidak hanya menanggapi kritik, tetapi juga mengarahkan diskusi publik dengan memperbanyak konten positif atau tidak relevan untuk mengalihkan perhatian dari isu sensitif,” tutur Nandy.
Strategi ini dinilai menciptakan kesan konsensus publik, sekaligus meminggirkan pandangan yang berbeda.

































