Akankah Rusia Membela Iran jika AS Melakukan Invasi?

10 hours ago 10

loading...

Suatu pertanyaan penting apakah Rusia membela Iran jika AS melakukan invasi. Foto/X

TEHERAN - Rusia dan Iran telah menandatangani perjanjian kerja sama besar baru-baru ini. Namun, kesepakatan ini biasanya tidak mencapai perjanjian pertahanan bersama yang mengikat seperti Pasal 5 NATO. Moskow tidak diwajibkan secara hukum untuk mengirim pasukan jika Teheran diserang.

Kremlin saat ini sangat berkomitmen pada perang yang sedang berlangsung di Ukraina. Membuka front militer kedua melawan AS di Timur Tengah secara logistik sulit. Putin kemungkinan akan menawarkan dukungan diplomatik yang kuat daripada mengerahkan tentara.

Akankah Rusia Membela Iran jika AS Melakukan Invasi?

1. Pasokan Senjata Canggih

Melansir WioNews, Iran mengintegrasikan S-300. Mengenai jet Su-35, laporan terbaru (akhir 2025) menunjukkan bahwa meskipun produksi sedang berlangsung, pengiriman berjalan lambat.

Beberapa unit diperkirakan akan tiba pada tahun 2026. Moskow ragu-ragu untuk mengirimkan S-400 ke Iran untuk menghindari semakin menjauhkan negara-negara Teluk dan Israel, meskipun diskusi sedang berlangsung.


2. Berbagi Intelijen

Moskow dapat memberikan data satelit dan intelijen penting tentang pergerakan pasukan AS. Dukungan militer 'lunak' ini sangat efektif dalam peperangan modern. Hal ini memungkinkan Iran untuk menargetkan aset musuh secara tepat tanpa Rusia melepaskan satu tembakan pun.

3. Jalur Ekonomi Vital Beijing

China tetap menjadi pelanggan minyak terbesar Iran meskipun ada sanksi Barat. Dalam konflik, Beijing kemungkinan akan memastikan Iran tidak mengalami keruntuhan ekonomi total. Namun, secara historis China menghindari intervensi militer langsung dalam perang asing.

4. Rute Laut Kaspia

Rusia memiliki perbatasan maritim langsung dengan Iran melalui Laut Kaspia. Angkatan Laut AS tidak memiliki akses ke perairan pedalaman ini. Hal ini memastikan rute logistik yang aman bagi Rusia untuk memasok kembali Iran dengan amunisi dan makanan selama blokade.

5. Poros Perlawanan

Garis pertahanan pertama Iran yang sebenarnya terletak pada proksi regionalnya, bukan kekuatan global. Kelompok-kelompok seperti Hizbullah, Houthi, dan milisi di Irak kemungkinan akan menyerang pangkalan AS. Respons asimetris ini lebih cepat daripada menunggu tentara asing.

6. Perlindungan Diplomatik di PBB

Rusia dan China memegang hak veto di Dewan Keamanan PBB. Mereka hampir pasti akan memblokir resolusi apa pun yang melegitimasi serangan AS. Pertahanan politik ini mencegah AS membangun koalisi internasional yang luas melawan Teheran.

7. Risiko Eskalasi Nuklir

Keterlibatan militer langsung Rusia terhadap AS berisiko memicu konflik nuklir global. Baik Washington maupun Moskow ingin menghindari perang konvensional langsung. Pencegahan timbal balik ini kemungkinan mencegah Rusia untuk melibatkan pasukannya sendiri.

8. Siap Berperang Sendirian

Pada akhirnya, Iran telah mempersiapkan diri selama beberapa dekade untuk melawan perang asimetris sendirian. Mereka mengandalkan persenjataan rudal dan drone mereka yang sangat besar daripada bantuan asing. Sekutu akan menyediakan alat dan perlindungan, tetapi Iran kemungkinan akan menyediakan tenaga kerja.

(ahm)

Read Entire Article
| Opini Rakyat Politico | | |